Wednesday, 19 December 2018

KKR Aceh

Pelatihan Pengarusutamaan Gender Kkr Aceh

  • Bisma Yadhi Putra
  • Artikel
  • Dipublikasi Kamis, 26 Juli 2018 | 15:56 WIB

Pelatihan Pengarusutamaan Gender KKR Aceh

GUNA menumbuhkan sensitivitas gender pada seluruh anggota kelompok kerja dan petugas pengambil pernyataan dari lembaga-lembaga mitra, KKR Aceh menyelenggarakan “Pelatihan Pengarusutamaan Gender”. Pelatihan ini berlangsung selama dua hari, 23 dan 24 Juli 2018.

Selain itu, tujuan diadakannya pelatihan ini juga sebagai persiapan untuk pengambilan pernyataan pada korban kekerasan seksual semasa konflik Aceh.

“Selama proses pengambilan pernyataan yang sudah berlangsung lebih kurang enam bulan, kita memang belum mengambil pernyataan untuk kasus-kasus kekerasan seksual baik yang dialami perempuan maupun laki-laki. Tetapi KKR Aceh sedang melakukan beberapa persiapan, termasuk penyiapan instrumennya karena untuk kasus ini dibutuhkan mekanisme yang khusus,” jelas Komisioner Ainal Mardhiah dalam pembukaan acara.

Narasumber pertama yang berbicara dalam pelatihan ini adalah Samsidar, mantan Komisioner Komnas Perempuan perioder 1998-2006. Berbekal pengalamannya mendampingi perempuan korban kekerasan seksual selama bertahun-tahun, Samsidar membagi pengetahuan-pengetahuan penting kepada peserta pelatihan mulai dari strategi awal mendekati korban, kaidah-kaidah khusus dalam mewawancarai, hingga pentingnya menumbuhkan empati selama pengambilan pernyataan.

Samsidar menngingatkan agar petugas pengambil pernyataan pada korban kekerasan seksual berkonsentrasi penuh  selama bertugas. “Kalau sedang tidak konsen, jangan paksa ambil pernyataan!” Samsidar memperingatkan.

Selain itu, penting agar selama mewawancarai tidak mendesak korban untuk menceritakan peristiwa yang dialaminya. “Kebiasaan saya dulu di lapangan, pas hari pertama ngobrol santai dulu sama korban. Tidak langsung mengambil pernyataan pada hari itu. Tidak mungkin bisa selesai dalam satu hari. Saat korban bilang tidak sanggup lagi dan ingin berhenti, kita wajib berhenti. Lanjut keesokan hari atau kapan pun korban sudah merasa siap kembali. Begitulah idealnya mengambil pernyataan sampai kemudian dia lengkap,” terang Samsidar.

Pada sesi kedua, peserta pelatihan dibagikan formulir khusus untuk korban kekerasan seksual. Selama ini KKR Aceh memang sudah memiliki formulir untuk pengambilan pernyataan, namun untuk kasus kekerasan seksual akan dicatat dalam formulir tersendiri. Komisioner Komnas Perempuan Indri Suparno memaparkan bagian-bagian isian yang ada dalam formulir tersebut. Kepada peserta pelatihan, Indri memperingatkan bahwa petugas pengambil pernyataan pun rentan terkena dampak psikologis usai mengambil kesaksian korban kekerasan seksual.

“Pengambilan pernyataan kasus-kasus kekerasan seksual sering dianggap kecil, sepele, tapi sebenarnya cukup berisiko pula berdampak pada security dan psikis yang mengambil pernyataan. Jadi bukan korban saja,” kata Indri.

Profesor Syahrizal Abbas, di hari kedua pelatihan, memaparkan persoalan pengrusutamaan jender dalam perspektif Islam. Dalam pandangan Profesor Abbas, ketidakadilan gender dalam kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh budaya. “Budaya terkontruksi karena pengetahuan, tradisi, kebiasaan, dan sistem kekerabatan. Kalau sistem kekerabatannya patrilinear, semua penempatan peran sangat dominan laki-laki dalam semua hal,” jelas Profesor Abbas.

Ditambahkan, bahwa tafsiran terhadap doktrin agama juga berpengaruh membentuk ketidakadilan gender. “Bisa jadi doktrin ajaran agama, teks-teks agama, tidak menyebut ‘begitu’, tetapi tafsir yang dilakukan oleh manusialah yang menyebut harus seperti itu. Faktor yang menyebabkan berbeda itu adalah tingkat pengetahuan ahli tafsir. Tingkat pengetahuan ahli tafsir yang satu berbeda dengan ahli tafsir yang lain.  Sesama guru besar saja satu alumni saja beda tafsirnya. Apakah berbahaya itu pak? Tidak karena memang sunnatullah,” ujarnya.

Nursiti, fasililtator pelatihan ini, memberi banyak pengetahuan pula kepada peserta. Mulai dari team building hingga penjelasan-penjelasan untuk menjernihkan pemikiran soal keadilan jender dan cara menghadapi korban kekerasan seksual yang hendak diambil kesaksiannya. Diharapkan pelatihan selama dua hari ini memberi bekal pengetahuan dasar kepada para peserta sebelum mulai bertugas mengambil pernyataan pada korban kekerasan seksual di lapangan.

         

Berita Terkait

Pengecekan Kondisi Psikologis untuk KKR Aceh

26 Jul 2018

Pengecekan Kondisi Psikologis untuk KKR Aceh

Bisma Yadhi Putra | Berita

Yayasan Pulih Area Aceh melakukan screening kondisi psikologis dan problematika yang tengah dihadapi setiap orang yang bekerja di KKR Aceh. Kegiatan ini berlangsung di Kantor KKR Aceh pada Kamis...

Rekrutmen Petugas Entry Data Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh

26 Jul 2018

Rekrutmen Petugas Entry Data Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh

Bisma Yadhi Putra | Berita

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh telah melakukan pengambilan pernyataan dari korban konflik di Aceh sejak Desember 2017. Namun pada tahap awal ini kegiatan pengambilan pernyataan baru...


Komentar (0)


Kirim komentar

Komentar anda berhasl dikirim!

Pencarian

Populer

Terbaru

Tag