Saturday, 25 May 2019

KKR Aceh

Pengayaan Pengetahuan Mengenai Kasus Orang Hilang

  • Bisma Yadhi Putra
  • Berita
  • Dipublikasi Jumat, 12 April 2019 | 12:09 WIB

Pengayaan Pengetahuan Mengenai Kasus Orang Hilang

IMG_20190411_111255 Rapat Dengar Kesaksian untuk Kasus Orang Hilang (DK KOH) baru akan diselenggarakan Agustus nanti. Empat bulan lagi. Tetapi terhitung 11 April, persiapan pertama mulai dilakukan.

Langkah awal yang dilakukan KKRA adalah dengan mengadakan workshop penulisan transkrip wawancara untuk kasus orang hilang. Pelatihan ini memang difokuskan untuk Tim Narasi dan petugas data entry saja. Namun ternyata diskusi ini menarik minat anggota pokja yang tergabung dalam tim satker lainnya, termasuk relawan data entry juga turut serta di dalamnya.

Antusiasme ini muncul karena semua orang di KKRA menyadari bahwa DK adalah pegelaran yang melibatkan semua orang, sebagaimana bisa dilihat dari DK perdana yang diselenggarakan tahun lalu. Tidak ada yang tak terlibat.

Adalah Komisioner Muhamad Daud Beurueh yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Sebelum masuk ke persoalan penulisan transkrip kasus orang hilang, terlebih dahulu dibahas Konvensi Anti-Penghilangan Paksa agar para peserta memiliki pengetahuan yang memadai terlebih dahulu untuk kasus tersebut.

Sehari sebelum  kegiatan ini berlangsung, Tempo (10/4) menerbitkan artikel berjudul “Pentingnya Ratifikasi Konvensi Anti-Penghilangan Paksa”. Ditulis Staf Kontras Nisrina Nadhifah Rahman.

Nisrina menceritakan satu kasus orang hilang. Kasus ini menimpa Ruth Rudangta Sitepu, warga Indonesia yang menikah dengan seorang warga Malaysia. Ruth dan suaminya dinyatakan hilang sejak November 2016. Karena sampai saat ini belum ada investigasi yang berhasil, keduanya pun belum bisa dipastikan sebagai korban tindakan penghilangan paksa atau bukan.

Berbeda dengan kasus Amri Che Mat (tokoh Syiah Malaysia) dan Raymond Koh (pastor di Malaysia), keduanya telah ditetapkan sebagai kasus penghilangan paksa setelah dilakukan penyelidikan oleh Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia (SUHAKAM) karena diketahui mereka diculik oleh “anggota polisi cabang khusus”.

Berikut catatan Kontras untuk kasus penghilangan paksa terjadi dalam sejumlah peristiwa sebagaimana diimuat Nisrina dalam tulisannya: pembantaian 1965/1966 (37.774 korban); penembakan misterius sepanjang 1982-1985 (23 korban); peristiwa Tanjung Priok pada 1984 (14 korban); peristiwa Talangsari pada 1989 (30 korban); Darurat Operasi Militer (DOM) Aceh pada 1989-1998, pasca-DOM Aceh pada 1999-2002 dan Darurat Militer Aceh pada 2003 (total 577 korban); penghilangan paksa Aristoteles Masoka di Papua; serta penculikan dan penghilangan paksa aktivis pada 1997/1998 (23 korban, 9 di antaranya dilepaskan, 1 orang ditemukan meninggal, dan 13 lainnya masih belum kembali).

IMG_20190411_111458

Berita Terkait

Pelatihan Pengarusutamaan Gender KKR Aceh

12 Apr 2019

Pelatihan Pengarusutamaan Gender KKR Aceh

Bisma Yadhi Putra | Artikel

GUNA menumbuhkan sensitivitas gender pada seluruh anggota kelompok kerja dan petugas pengambil pernyataan dari lembaga-lembaga mitra, KKR Aceh menyelenggarakan “Pelatihan Pengarusutamaan...

KKR Aceh Akan Menggelar

12 Apr 2019

KKR Aceh Akan Menggelar "Rapat Dengar Kesaksian Korban 2018"

Bisma Yadhi Putra | Berita

        Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh memiliki banyak agenda di tahun 2018. Namun keseluruhan agenda yang ada bermuara pada satu tujuan: melancarkan...


Komentar (0)


Kirim komentar

Komentar anda berhasl dikirim!

Pencarian

Populer

Terbaru

Tag