Wednesday, 19 December 2018

KKR Aceh

Ragam Metode Penyiksaan Dalam Riset Annie Pohlman

  • Bisma Yadhi Putra
  • Artikel
  • Dipublikasi Rabu, 15 Agustus 2018 | 15:09 WIB

Ragam Metode Penyiksaan dalam Riset Annie Pohlman

JUMAT (17/8) lalu, KKR Aceh kedatangan seorang akademisi kawakan di bidang riset sejarah penyiksaan: Dr. Annie Pohlman. Pengajar senior di University of Queensland ini datang membawa banyak temuan tentang teknik-teknik penyiksaan di Indonesia, khususnya yang dipraktikkan semasa Orde Baru.

Diskusi yang berlangsung setengah hari tersebut dibawakan Annie dengan santai. Meski kasus-kasus penyiksaan yang dipaparkannya tidak ada yang tak mengerikan. Untuk mencairkan suasana, sesekali ia berseloroh. “Penyiksaan secara seksual tujuannya dilakukan untuk menjatuhkan martabat korban. Martabat, ya. Bukan martabak,” ujarnya sambil merapikan jilbab.

Tidak banyak hal baru sebenarnya yang dipaparkan Annie. Sebagian besar rangkuman teknik penyiksaan yang disampaikannya sudah menjadi pengetahuan umum. Misalnya ketika dia bercerita tentang orang yang disiksa dengan cara disetrum, KKR Aceh juga pernah memperoleh kesaksian dari seorang korban di Aceh Utara yang pernah ditangkap tentara lalu dilempar ke dalam sumur dan disetrum sampai lemas.

Tetapi ada beberapa hal baru yang cukup penting menjadi pengetahuan orang-orang di KKR Aceh. Dari seluruh kasus yang dirangkumnya, Annie kemudian sampai pada kesimpulan bahwa penyiksaan ternyata dianggap lazim; ternyata bisa dilakukan tanpa beban. Jadi dalam sudut pandang pelakunya, penyiksaan yang hendak dan tengah dilakukan dianggap sesuatu yang normal saja.

Kesimpulan tersebut menambah gambaran betapa beratnya tantangan yang akan dihadapi KKR Aceh ke depan. Pasalnya KKR Aceh adalah institusi yang salah satu pertimbangan pembentukannya untuk mencegah “kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang dan membentuk budaya menghargai hak asasi manusia”, sebagaimana disebut dalam konsiderans Huruf (c) Qanun Nomor 17/2013. Tanpa merontokkan cara pandang “penyiksaan wajar dilakukan” akan cukup sulit membangun budaya menghargai hak asasi manusia.

Annie menyimpulkan pula bahwa bentuk penyiksaan yang paling umum adalah pemukulan. “Pemukulan itu bersifat universal,” katanya. Maksudnya, pemukulan terjadi lebih banyak dan meluas dibandingkan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya. Alat-alat yang digunakan pun beragam, seperti balok, tongkat, batang besi, popor, dan sebagainya.

Dalam bentuk yang lebih sadis, tahanan disiksa dengan cara dirusak atau dihilangkan organ tubuhnya. Seperti dipotong jari kakinya, jari tangannya, telinganya, ditusuk matanya dengan benda tajam, payudaranya dibakar dengan rokok, atau dikuliti. Beberapa orang yang disiksa seperti itu pada kemudian hari bisa mengalami kerusakan saraf seumur hidup.  

Akan tetapi penyiksaan bukan cuma dilakukan dengan pemukulan fisik. Annie menjelaskan, “Ada juga yang disiksa dengan cara disuruh minum air selokan, dipaksa makan bangkai sampai muntah-muntah, dikencingi, dijemur berjam-jam di bawah terik matahari, atau korban dilarang tidur berhari-hari. Walau tidak dipukul, itu juga sangat menyiksa”.

Metode non-pemukulan lain adalah dengan memosisikan tubuh korban dalam bentuk tertentu secara statis. Misalnya korban diikat dalam posisi badan dan kaki menekuk ke belakang membentuk huruf C, lalu didiamkan begitu selama berjam-jam. Setelah beberapa lama tubuhnya diposisikan secara tidak wajar, korban mulai mengalami “ketidaknyamanan otot”. Rasa sakitnya terbentuk pelan-pelan. “Jadi walaupun tidak ada pemukulan, rasa sakitnya juga luar biasa setelah berjam-jam atau berhari-hari. Nanti ototnya akan cedera sendiri,” Annie menjelaskan.

Meski tidak menyangkal bahwa semua orang bisa menjadi korban, Annie melihat ada pihak-pihak tertentu yang lebih rentan menjadi sasaran penyiksaan, seperti tahanan dan orang miskin yang susah mengakses bantuan hukum.

“Dari kasus-kasus yang sudah saya pelajari, ada yang menjadi korban dari kelas yang paling tinggi, dari anggota parlemen sampai orang dari kelas paling bawah. Bahkan ada yang dari usia 80-an hingga bayi yang baru lahir juga bisa menjadi korban penyiksaan,” ungkap penulis buku Women, Sexual Violence, and the Indonesian Killings of 1965-66 ini.

Berita Terkait

Kerja Sama KKR Aceh dengan Yayasan Pulih di Bidang Pendampingan Psikososial

15 Aug 2018

Kerja Sama KKR Aceh dengan Yayasan Pulih di Bidang Pendampingan Psikososial

Bisma Yadhi Putra | Berita

SELAIN pengungkapan kebenaran, salah satu tugas lain KKR Aceh yang juga cukup krusial adalah melakukan pemulihan psikologis bagi para korban konflik. Untuk melaksanakan tugas ini, KKR Aceh bekerja...

Wali Nanggroe mengingatkan agar KKR dapat bekerja secara imparsial dan profesional.

15 Aug 2018

Wali Nanggroe mengingatkan agar KKR dapat bekerja secara imparsial dan profesional.

Admin | Berita

Wali Nanggroe menerima kunjungan Komisioner KKR Aceh di Meuligoe Wali Nanggroe, Senin (16/7) lalu. Pada kesempatan itu, Paduka Yang Mulia Pemangku Wali Nanggroe Malek Mahmud Al-Haytar menyampaikan...


Komentar (0)


Kirim komentar

Komentar anda berhasl dikirim!

Pencarian

Populer

Terbaru

Tag